HOW MARRIAGE CHANGE PEOPLE

    Apa yang ada dipikiran Anda saat mendengar kata ‘pernikahan’? Apakah Anda mengasosiasikannya dengan kehidupan yang indah atau kehidupan yang penuh tantangan? Ataukah Anda bersikap antipati dengan hal tersebut? Sebagian orang beranggapan bahwa menikah adalah muara dari sebuah hubungan yang sakral dan diberkahi. Sebagian lagi beranggapan bahwa menikah akan memberikan batas atas kebebasan yang seringkali mengekang dan membelenggu seseorang. Apa itu pernikahan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dasar ‘nikah’ n ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Pengertian pernikahan atau perkawinan seperti yang telah diatur dalam pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan bukan hanya dipandang sebagai perbuatan hukum saja tetapi dipandang sebagai perbuatan keagamaan.
Terlepas dari semua hal tersebut, yang menjadi poin penting dari sebuah pernikahan adalah bagaimana sebuah pernikahan dapat mengubah seseorang secara perlahan, maupun drastis, mengubah seseorang ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Tak jarang kita temui seseorang yang awalnya suka bepergian, tiba-tiba susah untuk keluar rumah, dan lebih memilih untuk tinggal dirumah menghabiskan waktu dengan keluarga. Jelas bahwa sedikit banyak pernikahan memberi dampak pada perubahan prilaku orang tersebut.
Dalam sebuah jurnal psikologi, sebuah penelitian oleh tim Universitas George, melacak 169 pasangan heteroseksual dalam 18 bulan pertama pernikahan mereka, dan menemukan perubahan kepribadian yang signifikan pada pria dan wanita dari waktu ke waktu, terlebih lagi perubahan ini tidak terpengaruh oleh usia pasangan, demografi, lama hubungan sebelum menikah, kohabitasi sebelum menikah, kepuasan pernikahan awal, atau status sebagai orang tua, sehingga pada tahap tertentu hal ini bersifat universal dan tak terhindarkan.
Adapun 5 perubahan yang paling menonjol berdasarkan hasil penelitian tersebut adalah ;
1.      Para suami mengurangi kegiatan keluar bersama dengan teman-temannya. hal ini masuk akal, karena pada umumnya pria keluar rumah untuk bertemu dengan lawan jenis. Namun, saat menikah hal tersebut sudah terpenuhi.
2.      Istri menjadi lebih tenang. Penjelasannya, bahwa menyandang predikat sebagai istri, memberikan sebuah ketenangan dan kenyamanan.
3.      Istri menjadi lebih tertutup terhadap suami dan mengurangi komunikasi dengan suami setelah menikah. Hal tersebut masih menjadi sebuah pertanyaan.
4.      Suami menjadi lebih bertanggung jawab. Berperan sebagai suami, para pria bekerja lebih keras, dan mengambil lebh banyak tanggung jawab.
5.      Keduanya menjadi kurang menyenangkan. Di tahap awal pernikahan, ada tahap perjuangan. Terutama saat perasaan cinta memudar atau tidak lagi menggebu, mereka mulai saling melihat kekurangan masing-masing, dan mulai mempersoalkan hal sepele yang biasanya berakhir dengan pertengkaran.
Kelima hal tersebut bisa jadi ada dalam setiap pernikahan, namun yang paling penting dari itu semua adalah perasaan empati yang harus selalu ditumbuhkan agar segala sesuatunya berjalan dengan baik, terlepas dari kekurangan dan kelebihan pasangan kita. Semua rumah tangga mempunyai ujiannya masing-masing. Misalnya, masalah ekonomi, masalah orang ketiga, masalah dari keluarga besar masing-masing pihak, dan lain sebagainya. Namun, saat kita mampu melewati ujian-ujian tersebut, saat itulah pernikahan akan semakin kuat dan kokoh. Tentu saja berdo’a adalah salah satu kuncinya. 

Comments

Popular posts from this blog

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN GENERASI 80-an, 90-an, DAN 2000-an

MENJAGA HUBUNGAN DI LINGKUNGAN KERJA

LAPORAN KEGIATAN STUDI TIRU