BERMUHASABAH DIRI

 Siapa yang tidak suka dengan sesuatu yang indah? Semua orang pasti menyukai keindahan. Bahkan, dalam sebuah hadist disebutkan, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu).

Saat mendengar kata ‘indah’ tentu yang pertama terlintas dalam pikiran kita adalah sebuah potret pemandangan, entah pegunungan dengan hamparan sawah yang menguning ataukah lautan yang terlihat menyatu dengan birunya langit sejauh mata memandang. Panorama tersebut, tentu saja dapat menyenangkan hati dan menenangkan pikiran. Banyak orang yang melakukan perjalanan, entah piknik atau liburan, hanya untuk menikmati keindahan alam, setelah melewati hari-hari yang melelahkan dan menjemukan. Hal tersebut tentu saja sering kita temui, terutama saat waktu liburan tiba, tempat wisata ramai dikunjungi wisatawan. Jadi, secara naluriah, manusia memang tidak bisa lepas dari sesuatu yang indah dan menyenangkan.

Keindahan juga sering diidentikkan dengan sosok wanita atau perempuan yang cantik. Setiap perempuan pasti ingin terlihat cantik dan mempesona. Bahkan, cantik sudah menjadi sebuah cita-cita. Sekarang ini, trend dengan istilah glowing. Hal tersebut, tak lepas dari adanya pengaruh dari “badai Korea” yang menampilkan para selebriti dengan kulit bersih, putih, dan tak bercela.

Demi tetap terlihat cantik, para perempuan melakukan berbagai cara, mulai dari berolah raga teratur, mengonsumsi makanan sehat, menghindari alkohol, tidak merokok, berdandan, perawatan diri di salon, konsultasi ke klinik kecantikan, bahkan yang lebih ekstrim, dengan melakukan bedah estetis atau bedah plastik untuk memperindah bagian tubuh yang dianggap kurang, yang tentu saja dalam pandangan Islam, dianggap sebagai tindakan mengubah ciptaan Allah SWT. Tentu keinginan untuk tampil cantik adalah hal wajar, karena selain untuk menambah kepercayaan diri, juga menimbulkan kepuasan dan rasa bahagia. Namun, lain halnya jika kecantikan itu ditujukan untuk menarik dan menggoda lawan jenis, terlebih lagi digunakan untuk niat yang tidak baik.

Dalam Islam, sebagai seorang muslimah, kita dianjurkan untuk senantiasa menutup aurat, memiliki sifat malu dan menghindari tabarruj. Jangan sampai keinginan kita untuk terlihat cantik dimanfaatkan oleh setan, untuk menjadikan kita sebagai sumber fitnah. Seperti dalam salah satu hadist, dari Sahl Bin Sa’d, sesungguhnya Rasullullah SAW bersabda, yang artinya : “Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih besar bagi laki-laki selain dari perempuan”. (HR. Al Bukhari). Kata ‘fitnah’ dari hadist tersebut dapat diartikan sebagai ‘ujian’. Maka, sebagai seorang muslimah kita harus senantiasa menjaga diri kita.

 Adapun hal yang terkadang tidak perempuan sadari, yaitu tabarruj. Apa itu tabarruj? Kata tabarruj, terdapat dalam Al Qur’an surah Al Ahzab, yaitu;

 الأولَى الْجَاهِلِيَّةِ تَبَرُّجَ تَبَرَّجْنَ وَلا بُيُوتِكُنَّ فِي وَقَرْنَ

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu ...” (QS. Al-Ahzab : 33)

“Secara detail, tabarruj diartikan sebagai sesuatu yang ingin dilihat orang lain. Tabarruj dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, di antaranya pakaian, perhiasan, dan parfum. (Khairunnisa Fauzatul A., 2020). Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa sesuatu yang berlebihan yang dikenakan oleh seorang perempuan, yang ditujukan untuk dilihat orang lain adalah tabarruj. Termasuk di antaranya menggunakan pakaian yang mencolok, berdandan, dan memakai wewangian yang dapat menimbulkan syahwat dari lawan jenis. Hal-hal demikian, akan menggiring kita pada perilaku yang salah, utamanya terhadap perempuan yang telah menikah, yaitu perselingkuhan.

Semoga Allah SWT, senantiasa melindungi diri kita dari godaan syaitan yang dapat melalaikan dan menjerumuskan kita.

Comments

Popular posts from this blog

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN GENERASI 80-an, 90-an, DAN 2000-an

MENJAGA HUBUNGAN DI LINGKUNGAN KERJA

LAPORAN KEGIATAN STUDI TIRU