ZUHUD, TAWADDU, dan WARA
Pernahkah Anda mendengar kata zuhud, tawaddu, dan wara? Mungkin kita sering mendengar kata tersebut, namun belum memahami maknanya. Dikutip dari berbagai sumber, berikut penjelasan tentang zuhud, tawaddu, dan wara.
Zuhud dalam Islam adalah sikap yang menunjukkan
prioritas seseorang terhadap kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Para
ulama mengajarkan bahwa zuhud melibatkan meninggalkan keterikatan pada harta
dan materi, serta mengutamakan pencapaian spiritual dan hubungan dengan Allah
SWT. Berikut beberapa aspek penting tentang zuhud:
1.
Zuhud secara harfiah berarti meninggalkan sesuatu. Dalam terminologi Islam,
zuhud berarti memalingkan diri dari kesenangan hidup duniawi yang sementara dan
mengutamakan kesenangan ukhrawi yang lebih baik dan abadi. Zuhud bukan berarti
melepaskan kebutuhan dunia, tetapi menyadari bahwa dunia bukan segalanya dan
mengutamakan kehidupan setelah kematian.
2.
Ciri-Ciri Perilaku Zuhud:
- Tidak terlalu bergantung pada materi
dunia, namun tetap memenuhi kebutuhan dasar.
- Menilai ulang dunia sebagai sumber
kebahagiaan dan kepuasan.
3.
Tingkatan Dalam Zuhud:
- Zuhud merupakan tingkatan yang harus
dilalui oleh seorang sufi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
- Mengesampingkan urusan dunia dan
mendahulukan urusan akhirat.
4.
Adapun contoh dari perilaku Zuhud yaitu :
- Rasulullah SAW menjadi contoh teladan
dalam bersikap zuhud.
- Mengutamakan ibadah, kebajikan, dan
kebaikan sosial daripada harta dan materi.
Zuhud mengajarkan kita untuk menyadari nilai sejati
dan mengarahkan perhatian kita pada kehidupan abadi. Semoga kita dapat
mengambil pelajaran dari sikap zuhud dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah
SWT. Selanjutnya tawaddu,
Tawaddu adalah sikap rendah hati yang sangat dihargai
dalam Islam. Ini menunjukkan ketidakangkuhan, tidak sombong, dan menghargai
kedudukan yang lebih rendah daripada yang seharusnya. Berikut beberapa hal
penting tentang tawaddu:
1.
Tawaddu secara harfiah berarti meletakkan. Dalam konteks Islam, tawaddu berarti
menunjukkan kerendahan hati dan tidak menganggap diri lebih tinggi dari orang
lain. Ini adalah sikap terpuji yang menjadi karakteristik orang beriman.
2.
Keutamaan tawaddu:
- Mendapatkan kemuliaan di dunia dan
akhirat.
- Rasulullah SAW bersabda, "Sedekah
tidak mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat
pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang
memiliki sifat tawaddu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan
meninggikannya." (HR. Muslim no. 2588).
Adapun sikap tawaddu yang dicontohkan para nabi, yaitu
:
- Nabi Musa
membantu memberi minum pada hewan ternak.
- Nabi Daud
makan dari hasil kerja tangannya sendiri.
- Nabi
Zakariya dulunya seorang tukang kayu.
- Nabi Isa
berbicara dengan rendah hati dan berbakti kepada ibunya (QS. Maryam: 32).
3.
Nasehat Para Ulama Tentang Tawaddu: Tawaddu adalah sifat mulia, namun sedikit
orang yang memilikinya. Kita seharusnya seperti ilmu padi, yaitu "kian
berisi, kian merunduk."
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari sikap
tawaddu dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT. Adapun kata wara,
Wara adalah sikap rendah hati yang sangat dihargai
dalam Islam. Ini menunjukkan ketidakangkuhan, tidak sombong, dan menghargai
kedudukan yang lebih rendah daripada yang seharusnya. Berikut beberapa hal
penting tentang wara:
1.
Wara secara harfiah berarti meletakkan. Dalam konteks Islam, wara berarti
menunjukkan kerendahan hati dan tidak menganggap diri lebih tinggi dari orang
lain. Ini adalah sikap terpuji yang menjadi karakteristik orang beriman.
2.
Keutamaan Wara:
- Mendapatkan kemuliaan di dunia dan
akhirat.
- Rasulullah SAW bersabda, "Sebagian
dari kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat
baginya." (HR. At-Tarmizi), Makna hadits ini mencakup setiap yang tidak
bermanfaat dari ucapan, penglihatan, pendengaran, tangan, berjalan, berpikir,
dan seluruh gerak yang tampak ataupun yang tidak (batin). Hadits ini telah
mencakup semua makna yang terkandung dalam lafal wara.
Adapun
contoh dari perilaku Wara, yaitu, seseorang meninggalkan kebiasaan mendengarkan
dan memainkan musik secara berlebihan hingga lalai akan kewajibannya sebagai
muslim, karena dia tahu bahwa bermusik atau mendengarkan musik itu ada yang
mengatakan halal dan ada yang mengatakan haram.
3.
Manfaat Wara:
- Terhindar dari azab Allah Swt., pikiran
menjadi tenang, dan hati menjadi tenteram.
- Menahan diri dari hal yang dilarang.
- Tidak menggunakan waktu untuk hal-hal yang
tidak bermanfaat.
- Membuat doa dikabulkan, karena manusia
jika menyucikan makanan, minuman, dan bersikap wara, lalu mengangkat kedua
tangannya untuk berdoa, maka doanya akan segera dikabulkan.
- Mendapatkan keredaan Allah Swt. dan
bertambahnya kebaikan.
- Terdapat perbedaan tingkatan manusia di
dalam surga sesuai dengan perbedaan tingkatan wara mereka.
Dapat disimpulkan bahwa wara sangat dibutuhkan dalam
kehidupan sehari-hari agar kita mendapatkan keredaan dari Allah Swt. Semoga
kita bisa menjadi orang-orang yang wara. Aamiin.
Comments
Post a Comment