BAD PARENTING
Pasti Anda pernah mendengar kisah viral tentang
seorang anak balita yang ditinggalkan sendirian selama sepuluh hari oleh ibunya
yang pergi berlibur, tanpa pengawasan dan makanan yang cukup, hingga akhirnya
balita tersebut meninggal dunia karena kehausan dan kelaparan. Kejadian
tersebut dapat dikategorikan sebagai pola pengasuhan yang buruk atau bad
parenting.
Pola pengasuhan yang buruk dapat merujuk pada berbagai
perilaku atau pola yang berdampak negatif terhadap kesejahteraan dan
perkembangan anak. Ini bisa mencakup mengabaikan kebutuhan anak, terlalu menuntut,
kritis atau otoriter, menunjukkan sikap yang tidak konsisten dalam aturan dan
disiplin, atau gagal memberikan dukungan emosional dan perhatian. Hal yang
harus dipahami bahwa pengasuhan anak adalah sebuah tantangan, dan banyak orang
tua mungkin kesulitan karena stres eksternal, kurangnya sumber daya, atau
masalah pribadi yang belum terselesaikan.
Seperti yang dikutip dari 20 common examples
of bad parenting that are often ignored dalam laman
FlashGet Kids (2024), ada beberapa perilaku yang bisa dianggap sebagai bentuk bad
parenting karena dampaknya negatif terhadap perkembangan anak, seperti:
1.
Kurangnya perhatian dan kasih sayang: Mengabaikan kebutuhan fisik atau
emosional anak, seperti tidak memberikan waktu berkualitas atau mendengarkan
keluhannya.
2.
Kekerasan fisik atau verbal: Menggunakan kekerasan, baik fisik maupun kata-kata
yang menyakitkan, dalam mendisiplinkan anak.
3.
Terlalu otoriter atau kontrol berlebihan: Memberikan aturan terlalu ketat tanpa
memberi anak ruang untuk bereksplorasi atau berekspresi.
4.
Inkonstistensi dalam aturan dan disiplin: Bersikap tidak konsisten dalam
menetapkan batas atau memberi hukuman, sehingga membingungkan anak.
5.
Kurang mendukung pengembangan potensi anak: Tidak membantu anak menemukan bakat
atau minatnya, atau malah mengabaikan pencapaiannya.
Berikut beberapa contoh konkret perilaku yang dapat
dianggap sebagai bad parenting :
1.
Mengabaikan kebutuhan anak :
- Tidak menyediakan makanan yang cukup atau
bergizi.
- Membiarkan anak sering sendirian tanpa
pengawasan yang memadai.
2.
Menggunakan kekerasan dalam mendisiplinkan :
- Memukul anak sebagai bentuk hukuman.
- Berteriak atau merendahkan anak dengan
kata-kata kasar.
3.
Membandingkan anak dengan orang lain :
- Mengatakan, "Kenapa kamu tidak sepintar
kakakmu?" atau "Anak tetangga selalu juara, kenapa kamu tidak?"
4.
Tidak mendukung pendidikan atau bakat anak :
- Tidak peduli dengan prestasi akademik anak
atau tidak memberi anak kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang ia sukai,
seperti olahraga atau seni.
5.
Terlalu otoriter :
- Memaksakan anak untuk mengikuti jalan
hidup yang tidak sesuai dengan minat atau keinginannya, misalnya menentukan
karier tanpa memperhatikan pendapat anak.
6.
Tidak memberikan stabilitas emosional :
- Sering bertengkar di depan anak atau
membuat anak merasa bersalah atas masalah dalam keluarga.
7.
Ketidakkonsistenan :
- Kadang memberi izin untuk sesuatu, tetapi
kemudian menghukum anak saat mereka melakukannya.
8.
Menggunakan anak sebagai pelampiasan :
- Membebani anak dengan tekanan emosional,
seperti mengeluh tentang masalah keuangan atau pernikahan kepada anak.
Pola-pola seperti ini dapat memengaruhi kesejahteraan
emosional, rasa percaya diri, dan perkembangan sosial anak. Penting untuk
diingat bahwa memperbaiki hubungan dan perilaku dalam keluarga selalu
memungkinkan dengan kemauan dan usaha bersama, dan setiap orang tua memiliki
tantangan, dan kesalahan yang sering kali terjadi tanpa disengaja. Memberikan
perhatian lebih pada kebutuhan anak dan belajar dari kesalahan akan sangat
membantu.
Comments
Post a Comment